You Say ..If you could fly, You'd never come back down. You only have eyes for that Blue. You've yet to learn what sadness is, and are now just grasping what pain is like. Even the feeling i have for U Must be expressed in words. As You Awake from a dream into an unknown world.... Spread Your Wings and take flight! You know if you just can make it through, You'll find what you seek.. So Keep Tryin To Break Free To That Blue...Blue Sky
It's really Me Yeahh..
- MyBlueButterflyz
- Padang, Sumatera Barat, Indonesia
- Seorang yang mungkin menurut orang lain gak pernah jelas maunya apa, sukanya apa, bahkan ada yang bilang saya suka asal, namun saya pikir mereka yang aneh, beruntung saya berada ditengah keluarga yang selalu membanggakan ke"unik"an ini. Sehingga saya tak perlu merasa risih dengan apa yang saya punya...hal yang paling tidak saya suka adalah menyesal, karena menyesal hanya akan membuat kecewa dan marah, so yang terjadi yah udah ajah terjadi, yang akan datang yang harus di'nikmati'...saya termasuk orang yang cukup ramah meski susah akrab dengan orang lain, tapi jika kita udah klop..jangan tanya saya bagaimana membuat anda jadi gila huehehehe...artinyaaaa...kalian siap siap merindukan aku setiap saat hahahaha...narsis..itu pastiiii...karena aku harus menyukai diri sendiri dulu baru bisa menyukai orang lain..setuju setuju??? so welcome to my world!!!
Rabu, 22 Desember 2010
Kantong Plastik Hitam
Pria itu punya pekerjaan mapan, seorang manejer di sebuah perusahaan besar di zamannya. Mungkin dia lelah menjadi orang miskin, berpindah-pindah tempat inang tumpangan, dari satu rumah ke rumah lain, mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan, demi membalas jasa tumpangan dan sejengkal usus, tak di upah uang pun tak apa.
Usianya masih 19tahun kala itu, tak dibekali banyak pendidikan tentang agama...buatnya semua agama sama saja, menyembah dan takut kepada Tuhan yang sama...
Satu persatu anaknya lahir, memberi kebahagiaan buat mereka, hingga suatu masa...suami yang sangat dicintainya ditemukan "serumah" dengan orang lain...
Saat itu dunia nya hanya memiliki 1 warna yaitu hitam...lalu rengekan dan jerit tangis anak-anaknya menyadarkan ...bahwa dia punya nyawa lain yang harus dia perjuangkan...secepat kilat dia tinggalkan tempat itu, menggendong anak2nya, menjual barang2 murahan miliknya untuk bekal sementara dia membereskan kehidupan barunya....
Lagi-lagi, dia terperangkap dengan janji manis seorang pria lain yang kelak akan membahagiakannya...semuanya begitu manis membayangkan anaknya bisa hidup lebih layak...hari berganti bulan dan kemudian jadi tahun..kekerasan menjadi hadiah setiap hari...bukan hanya sekali 2kali pria itu menikahi wanita lain...7kali atau mungkin 8kali, tak sudi dia menghitungnya
Ucapan kata-kata kasar, suara keras memaki, menghina menjadi santapan tiada henti...fitnah dan sumpah serapah juga menjadi senandung bangsat yang selalu bergaung di istana yang dia bangun dari hasil usaha yang dia kelola.
Keahliannya masak memasak, menabung sedikit demi sedikit membuatnya berhasil menyelesaikan pendidikan anak-anaknya juga memdirikan istana impiannya...
Namun tak bertahan lama, karena kejadian yang sama terulang lagi, pria itu lagi-lagi menikah lagi dan lagi dan lagi...kondisi kesehatannya semakin parah, warung nasinya dia gadaikan, rumahnya dia gadaikan semua dia jadikan uang...yang kemudian dirampas pria itu, lenyap dari tangannya...tak hanya itu, nyawanya juga lenyap ketika dia terpental jauh setelah berebut uang dalam kantong plastik hitam itu.
Rabu, 15 Desember 2010
Duduk...

Duduk...!
Duduk saja disitu, seperti janjiku...aku hanya ingin ditemani makan jagung sore ini.
Takkan ada perbincangan antara kita, dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku rasa akan mengusikmu juga mengusikku.
Aku hanya ingin memandang matahari terbenam bersemamu, sambil makan jagung bakar dengan bumbu merah yang menggiurkan.
Aku hanya ingin diam bersamamu di depan sinar jingga diseberang laut sana...
Duduk...!
Duduk saja disitu, tak usah perdulikan apa yang sedang kupikirkan, tak usah kau pikirkan kenapa aku meminta ini.
Aku hanya ingin memandang matahari terbenam bersamamu, sambil minum teh dingin dari dalam botol...
Aku suka seperti ini, ada kau..ada jingga, ada laut, ada angin, ada bau asin dari air yang menguap...ada hiruk pikuk orang disekitar kita...
Aku suka seperti ini...seolah kita tau tentang apa yang ada dipikiran masing-masing tanpa harus mengucapkan lisannya...
Kau juga pasti tau...terlalu singkat waktu hingga azan maghrib tiba untuk banyak hal yang mungkin bisa kita perbincangkan...
Tapi kau dan aku tak butuh lisan...hatiku dan hatimu sudah bertemu diseberang sana...dimatahari itu...yang akan segera tenggelam tenggelam bersama isi hati kita...
Jumat, 19 November 2010
Aku Tak Tau Kenapa Kau Suka Lagu Itu
Kau berhenti menatap kotak kecil hitam itu, sambil memenjamkan mata...nikmat sekali sepertinya tali itu mengalirkan sesuatu ketelingamu...aku berhenti berayun lalu menatapmu...
Seperti tau aku memandangmu, lalu matamu terbuka dari pejam...melepas tali itu dari telingamu...
"Ini namanya Walkman...bisa membuatmu mendengar bunyi kaset yang diputar di dalamnya" aku diam saja...memandangnya kabur..."Kau mau mendengarnya?" tanyamu..."Lagu ini lagu yang paling kusuka...selalu kudengarkan dimana saja aku suka, diatas kasurku, didalam ruang kuliahku, didalam bis kota, angkot, halte kadang di bawah pohon ini"...aku masih tetap diam saja.
"Kau mau tau kenapa aku suka lagu ini?" tanyamu lagi...aku diam saja tapi jemariku meraih tali itu dan meletakkannya di telingaku...aku mendengar lagunya, memandangmu...dan tersenyum...aku mengambil kotak hitam yang kau sebut tadi walkman dari tanganmu tanpa pamit, dan duduk kembali di buaian buruk itu, sambil berayun-ayun, ditiup-tiup angin...aku pejamkan mata setelah aku keraskan bunyi lagunya.
---Jika engkau tak lagi disini bersamaku, aku yang disana bersamamu
---Pergi dari sini tapi bukan dari sudut hati dan ingatanku
---Bayangmu dipatri disini...jiwa melayang..bersama bayang
---itulah kau... sayang...
begitu sebagian liriknya yang kuingat...
Kau menghampiriku, berdiri dibelakangku...dan mengayunkan aku dalam buaian...
Berakhir disini...dibawah pohon rindang meski sudah tua...aku berayun-ayun di buaian buruk yang tergantung didahannya yang besar, rambutku terbang-terbang ditiup angin...aku memandang gundukan tanah dihadapanku, menghela nafas...agar tak sesak dada...ini nyanyian pertama, suara pertama, kalimat pertama dari mulutku...setelah sejak umur 4tahun, aku tak bisa berkata apa-apa...melihat mayat ayah dan ibuku tergilas truk besar yang lewat ketika kami menyebrang..aku terlempar ke tepi jalan...sementara ayah dan ibuku terpisah antara kepala dan badan...
Aku bernyanyi, bersuara, mengucapkan kalimat pertamaku setelah 16tahun membisu...
---Jika engkau tak lagi disini bersamaku, aku yang disana bersamamu
---Pergi dari sini tapi bukan dari sudut hati dan ingatanku
---Bayangmu dipatri disini...jiwa melayang..bersama bayang
---itulah kau... sayang...
sambil kucium batu nisanmu...pertemuan terakhir kita setahun lalu, kau mengenalkanku pada lagu ini...lagu pertama yang kunyanyikan... untukmu...apakah kau mendengar itu?
Minggu, 14 November 2010
No Need a Title
Selasa, 09 November 2010
Time To Go Home

Late at night, the night started raining
it's time to return home.
We've wandered far enough
exploring empty houses.
I know: very tempting to stay
and meet new people.
I know: even more appropriate
to finish the night here with them,
but I just wanted to return home.
We have seen enough beautiful destinations
with cues in their said
This is the House of God. View
grains such as temperament ants,
without wanting to harvest it. I'll leave it
herding cows alone and we go
there: to where everyone was headed
there: to where we are free to go naked.
Needle...
Minggu, 07 November 2010
The Dawn
Concerns for concern marching irregularly in the eyelids can not make it closed. There's heart cried out loud, clanging heart of anger, but still could not be heard ... because the bones are too tightly closed chest
Maybe someday it will break bones, break down one by one, in broken by shouts of anger and heart .... Or may be it will still be there to rot until only the smell alone is enough to make their escape ...
Not because I did not choose a shortcut to get geared, but it would be too much left if i travel a short way ... I decided to take them while going through a long road.
But here I am getting increasingly silly twists and turns after winding through the map of life
Second beating, the time elapsed is only empty space with no meaning .
Rabu, 03 November 2010
Rindu Makian Kamu
Ketika kau sama seperti makian...
Kadang Jadi Sahabat dan tak Jarang jadi musuh...
Makian yang melepas sesak dan muak....
Makian yang sama seperti rindu....
akan membuat tersengal ketika tak terlepas dari mulut biadab...
Makian sama seperti rindu...
Tertawa terbahak setelah bertemu...bedebahhh...
Rindu yang sama seperti Makian...yang sama juga sepertimu....
Ketika, Kamu adalah Makian...yang selalu membuat ku rindu...
Selasa, 12 Oktober 2010
Being silent and nowhere to be found

Have you ever felt it,
when all the world like to blame you that you are a strange people,
working too hard,
thinking too seriously,
ignoring the fate as a woman with 30 years of age, with a strange taste,
spend time with going it alone,
shut yourself up to 2 - 3 days inside the room, without seeing the sun at all,
when you and yourself very comfortable with it.
Did you ever feel that you have become personally very tired of the way they wanted, felt you had the wrong step,
choose something that is really not something you enjoy,
want to escape from their world,
feel empty and no ideals.
Did you ever feel that your smile is fake, just friendly small talk but actually you want to scold them because they've only making you a tool for their interests...
Minggu, 10 Oktober 2010
Lhokseumawe

Arriving at this seaside...
You fixed my memory...
I do not know what it means I'm destined to hear your voice ...
among the low roar of sound waves ...
Talk to you even without exercise, on the corner of the hut surrounded by sloping sea water, watching the grouper fish pond...
I thought it would be a real fancy....
Although never and will never ever be real...
Senin, 04 Oktober 2010
Selasa, 24 Agustus 2010
Meski Tak Layak

wahai tuhan jauh sudah
lelah kaki melangkah
aku hilang tanpa arah
rindu hati sinarmu
wahai tuhan aku lemah
hilang terumur noda
hapuskanlah terangilah
jiwa di hitam jalanku
ampunkanlah aku
terimalah taubatku
sesungguhnya engkau
sang maha pengampun dosa
Ya robbi, ijinkanlah
aku kembali padamu
meski mungkin takkan sempurna
aku sebagai hambamu
ampunkanlah aku
terimalah taubatku
sesungguhnya engkau
sang maha pengampun dosa
berilkanlah aku
kesempaatn waktu
aku ingin kembali
kembali...
dan meski aku tak layak
sujud padamu
dan sungguh tak layak
aku...
By: Opick
Senin, 23 Agustus 2010
Pelupa 1 (bahasa suka-suka)
Pelupa itu udah dari saya kecil, selain pelupa saya juga lelet, suka nunda2 kerja dan kebanyakan lenyeh2.
Waktu itu mungkin sekitar umur 8 tahun saya udah bisa masak nasi lho...ya..masak nasi, yang asalnya dari beras...
Masak nasinya pakai periuk dan api kompor...anak-anak sekarang umur segitu mana ada yang ngerti ngebedain Jahe ama Lengkuas...hehehehe
Suatu sore saya masak nasi buat makan malam lah ini ceritanya, sambil masak... di depan rumah saya main dengan temen2...kalo dulu sebutannya main engklek...karena asyiknya main saya ampe lupa kalo di dapur lagi masak nasi...sampe saya liat ibu saya dari kejauhan, ya itu ibu saya...yang putih, rambut keriting, kulit putih dan hidung pesek..saya baru sadar kalo saya lagi masak nasi.
Ingat ibu-ingat periuk-ingat kompor-ingat dapur-dan ingat beras dalam periuk yang itu dia sedang dimasak diatas api kompor dan sudah mengeluarkan bau hangus. Lalu saya buka tutup itu periuk saya lihat kedalam periuk dan semua sudah hitam. Beras putih yang saya masukkan dengan air sudah berubah jadi hitam. Lalu saya angkat itu periuk saya siram air lalu saya pandang, saya korek2 isinya tapi keras tak seperti nasi yang lembut. Saya lalu diam, saya jalan keruang tamu, tiba-tiba saya nangis...nangis membayangkan ibu saya akan marah, akan jewer saya punya kuping, atau cubit saya punya pipi atau..akhhh saya menangis karena kasihan, bukan karena kasihan dengan nasi yang sudah hitam, bukan dengan periuk yang sudah rusak warnanya karena tertempel hitam nasi hangus...saya menangis karena kasihan dengan diri sendiri, membayangkan takkan ada yang akan menyelamatkan saya dari jeweran dan cubitan itu.
Melihat saya menagis ibu saya iba, lalu memeluk saya punya badan yang masih kecil lalu bertanya ke saya kenapa saya menangis lalu saya menagis semakin keras, dan ibu saya semakin bingung lalu ke dapur, mengambilkan saya air putih untuk saya dikasih minum...dan saya pun mengecilkan suara tangis dan lalu ibu mengantarkan gelas ke dapur ...ibu saya kembali kedapur lagi...dan ibu saya melihat itu periuk yang isinya nasi hangus dan ibu saya berteriak memanggil saya dan saya datang dan itu periuk di telungkupkan ibu saya ke kepala saya. Dan saya memakai topi periuk yang separu berisi nasi hangus. Tapi saya tidak menangis lagi, karena ibu saya hanya memasang topi periuk ke kepala saya tidak menjewer saya, tidak mencubit pipi saya.
Selasa, 17 Agustus 2010
"Kaya" adalah takdirmu INA...

Merdeka...!!!
Teriak 3 petugas tertawan di negeri seberang...
Merdeka...!!!
Teriak anak-anak jalanan buta huruf di bawah kolong jembatan...
Merdeka...!!!
Teriak Petani yang hitam legam, dari tengah sawah..tak perduli harga beras naik turun yang penting ada hujan dan bisa panen...
Merdeka...!!!
Teriak Pemulung dari tengah gundukan sampah...
Merdeka...!!!
Teriak PRT, mengacungkan kepal tangan yang terkelupas karena setiap hari tersiram Porstex toilet sang majikan...
Merdeka...!!!
Teriak nelayan dengan suara tercekik karena tagihan rentenir...
Merdeka...!!!
Teriak warga perbatasan yang terabaikan...
Merdeka...!!!
Teriak veteran keriput yang sudah luput...
Merdeka...!!! Merdeka...!!! Merdeka...!!!
Teriak lantang para koruptor...
Merdeka...!!! Merdeka...!!! Merdeka...!!!
Teriak riang birokrat dan petugas nakal...
Merdeka...!!! Merdeka...!!! Merdeka...!!!
Teriak senang penyimpan "pajak"
Merdeka...!!! Merdeka...!!! Merdeka...!!!
Teriak keras bandar Narkoba...
Mereka tertawa melihat lelucon tak lucu...disini...
Memecah belah lalu mengadu domba anakmu INA...
Kau sedih INA...?
Tapi..."kaya" adalah takdirmu INA...
Meski telah lebih 30tahun digit Tuan dan Nyonya Tikus...koruptor...
Meski melepasi pulau-pulaumu INA...
"Kaya" adalah takdirmu...
Karena masih banyak pulau yang bisa dijual...
Karena masih ada hutan terhampar luas...
Karena masih ada laut dengan Flora dan Fauna berharga disana...
Karena masih ada tanah dengan Gas dan Minyak yang muncrat ke muka...
Karena masih ada lahan subur tanpa perlu kotoran d*bur...
Karena "Kaya" adalah takdirmu..
INA...
Selasa, 10 Agustus 2010
Dalam Manusia
Huff..tak terasa…setahun berlalu sudah, dari situasi yang sangat membahagiakan dulu…
Ketika tulus bercengkrama antara kita…ternyata semua indah…ketulusan itu memang tak meninggalkan penyesalan…

Ketika nyenyak tidur…tiba-tiba aku terbangun, entah kenapa..serasa ada yang hilang dari dadaku…nyeri-sangat nyeri…dan aku teringat satu demi satu cengkrama kita…kubasuh muka…kesempatan untuk menghadap Khalik didini hari menjelang subuh…
Kuakhiri sujudku dengan do’a…tanpa sadar…semua do’a tentangmu..tentang kita…tentang pasrah, gelisah, bahagia, dan hingga tersisa sedih…
Sedih dan haru yang teramat dalam...mulutku masih sibuk komat-kamit, berulangkali mengucap astaghfirullah-astaghfirullah...maafkan kami manusia-manusia bodoh ini...pikiran dangkal oleh bisikan busuk...
Aku terkulai diatas sajadah…terbayang olehku kata tiap katamu, kata tiap kataku…tak pernah terpikirkan sebelumnya hingga kita sampai disini…setelah arus menarik semakin dalam…
Kubasuh lagi mukaku dengan dinginnya air, berharap beku…tapi tak bisa..panasnya kulit pipi membuat dingin menjadi hangat…
Kuulang sujud…kuulang lagi-lagi-lagi…pipiku semakin panas dan ini bukan keringat melainkan air mata…
Terisak dihening pagi…menghela nafas…semakin deras…bayangmu semakin jelas, senyummu semakin tegas…lubang didadaku semakin terasa…karena sadar bahwa aku tak bisa menyentuhmu….

Kubiarkan isak mengeras..agar semua lepas…dan terbebas…kuigaukan namamu berulang kali, dan namanya..nama kalian…tanpa namaku disana…
Bahagia menyusup, senyum mengembang…seperti ini Engkau memberi petunjuk Ya Allah…setelah sekian lama kami tertambat tanpa tali…tersiksa tanpa ikat…
Aku ikhlas Allah, aku ikhlas…bukan karena kami…tapi demi orang-orang yang kami sayangi dan kami cintai, orang-orang yang berharap banyak tentang kami…
Kuhitung hari, tak terasa Ramadhan akan tiba…terimakasih Ya Allah…Engkau pertemukan lagi aku dengan ramadhan ini…dengan masa penuh berkah, nikmat, rahmat dan karunia…
Terima kasih untuk segala hal yang tak aku sadari selama ini…dan maafkan aku…maafkan aku yang hina ini…maafkan aku yang selalu merasa bisa mendapatkan apa yang kumau tapi bukan yang kubutuh, maafkan aku yang terlalu banyak meng”aduh” tentang diriku…maafkan aku Ya Allah…sesungguhnya seluruh hidup dan matiku hanya untuk-Mu…
Minggu, 25 Juli 2010
Cerita Pendek "ABU-ABU"

Pagi yang cerah, aku bercermin sambil bersisir..dan tiba-tiba terdiam. Mendekatkan wajah ke cermin…teringat aku tentang kita. Tawa canda tadi malam serasa sangat menyenangkan. Sudah lama aku tidak sebahagia ini…
Kuletakkan sisir itu kembali, tapi mata belum lepas dari hadapan cermin, kulihat wajahmu tersenyum manis disana.
“Aku kangen kamu..” katamu tiba-tiba lalu terdiam disela tawaku..
Aku memandangmu…lalu menunduk aku balas “Aku juga kangen kamu…”
”Seharusnya aku tak canggung mengatakan ini, akhhh bukan...bukan...seharusnya aku tak mengatakan ini..” ralatmu sambil menyeruput sirup manis dihadapanmu.
Aku menatap ke arah lain...kita terdiam, aku menyibukkan diri dengan menekan-nekan tombol pada HP ku yang sudah memburuk termakan zaman...
Lalu kau menariknya, meletakkannya ditempat yang sedikit sulit kuraih. Aku menyibukkan diri lagi memutar2 sedotan di dalam gelasku. Meski aku tak memandangmu tapi aku tau tatapmu tak lekang dariku.
”Katakan saja apa yang ingin kamu katakan...bukankah itu akan membuat lega?”tanyaku.
”Aku ingin kita tetap seperti ini...” kau meraih tangan kiriku...menggenggam jariku, terasa hangat menjalar disluruh tubuhku, padahal saat itu hujan sangat deras diluar cafe sana.
”Aku masih seperti beberapa waktu lalu...tapi...” aku terdiam
”katakan saja apa yang ingin kamu katakan...bukankah itu akan membuat lega?” kamu membalikkan kalimatku...
”Antarkan aku pulang!” pintaku sedikit tegas, sambil kuraih kembali HP ku, memasukkannya kedalam tas mungilku dan berdiri siap meninggalkan tempat menyenangkan itu...
”Hujan memang mulai reda, tapi belum berhenti...”sambil membuka jaketmu dan menyelimutkannya kebahuku...seakan tau aku sedikit tersiksa dengan dingin hujan itu.
”Aku tak harus menunggu hujan berhenti, tak ada yang melarangku mandi hujan ketika aku ingin” kataku sambil menatapmu.
Kamu meraih tangan kecilku, menuntunnya ke arah tempat parkir sepeda motor yang akan membawa kita, memasangkan helm dikepalaku, mengancingkan penguncinya dan memastikan aku sudah nyaman...
Brummmm....bunyi knalpot tak mengalahkan teriakku dalam hati, tak juga mengalahkan bunyi gemuruh langit.
Aku duduk dibelakangmu, menjaga jarak...agar tak terlalu rapat.
Sepeda motor melaju lambat, seiring dengan melambatnya air hujan turun membasahi wajahmu...
”Bolehkah aku memintamu sesuatu..?”tanyaku
”Hahahaha...pernahkah aku mengatakan tidak untuk semua permintaanmu?” tanyamu balik.
”Aku ingin melihat kota ini dimalam hari, dari bukit itu...aku ingin melihat lampu-lampu berkelip dibawah taburan bintang dilangit, bersamamu...”kataku
Sepeda motor melaju lebih cepat, kearah yang kumau...aku masih menjaga jarak, agar tak merapat. Hingga dibukit itu, panorama yang selalu kusuka sejak 13 tahun yang lalu, saat aku masih di kelas 2 SMU. Aku berdiri ditepi bukit itu, menatap ke bawah...dimana banyak lampu berkedip genit seakan tahu aku sedang bahagia. Kutatap keatas...hujan telah reda, bintang pun bermunculan...
Kau duduk disebuah warung kecil di tepi bukit...memesan teh manis panas 2 gelas, membiarkanku mengangumi panorama itu dan aku membiarkanmu mengagumiku.
Ada riak kecil dialiran darahku, bisik hati berkata ”Seandainya kau milikku, alangkah bahagianya jika aku bisa memelukmu di tepi bukit ini” aku mendesah napas, memasukkan tangan kedalam saku.
Tak lama kemudian kau menghampiriku dan berkata ”Sudah puas melihat lampunya?”
Aku diam, dan kau pun diam disampingku...kita sama-sama menatap lampu2 itu.
Lalu aku memelukmu, aku memelukmu erat seakan tak ingin lepas, seakan kau akan pergi tak lagi kembali, dan kau hanya diam mematung dan membisu.
Kudekatkan telingaku ke dadamu..ada degup keras disana, dan aku berbisik
”Kau tahu aku akan selalu merindukanmu, dan kau tahu ini bukan rindu biasa...”
Lalu kau membalas erat pelukku, mengusap kepalaku, membelai rambutku...
”Hei...kenapa jadi cengenng begini, seharusnya kali ini aku tak mengabulkan permintaanmu tadi”katamu bernada membujuk.
”Entah kenapa dulu aku tak berani mengatakannya, dan membiarkanmu selalu menunggu...tapi sekarang, kenapa aku jadi tidak ikhlas?” kataku disela-sela seduku...
Aku masih memelukmu erat dan semakin erat...
Kamu kibaskan rambut yang menutupi wajahku..mengusap air mata dipipiku, lalu mengecupnya, kiri dan kanan dan mengecup keningku..tangisku semakin deras...tak bisa lagi kubendung, semua menyesakkan semua bagaikan memaksa untuk keluar, meledakkannya dihadapanmu...
Kutatap matamu, ada titik air diujung pipimu
”Aku tak pernah menjanjikanmu apa-apa, dan kau tahu...aku telah menjanjikan sesuatu padanya, tak mungkin itu kuingkari...tak mungkin aku menghindar dari janjiku kepadanya dan seluruh keluarganya...aku telah berjanji untuk menghabiskan sisa usiaku dengannya...hhhhaaa...hh.”kau menghela napas...menahan titik air diujung mata itu semakin deras...memandang ke atas..menahannya agar tak tumpah.
”Tapi ada aku dihatimu...”rengekku manja...
”Biarkan saja tetap begitu...”katamu mengelus pipiku dengan ujung jarimu
”Itu akan menyiksamu...” –dan menyiksaku- kataku dalam hati
”Ada hal-hal yang bisa kita lakukan sesuka hati, ada hal-hal yang harus kita lakukan meski tak kita kehendaki...seandainya aku tahu kita akan bertemu kembali di gerbong kereta itu beberapa bulan lalu, seandainya aku tahu bahwa rasaku masih seperti dulu saat aku melihatmu kembali, tapi...semua sudah terlanjur, bulan depan kami akan pindah ke Surabaya...dan aku yakin kau akan menemukan belahan jiwamu dalam waktu dekat...”
Aku memeluk lenganmu menghadap ke arah lampu2 kota yang tak henti berkedip.
”Aku yang akan menunggumu kali ini...”kataku yakin.
”Jangan bodoh Sinar...!menjadi yang kedua buatku bukan takdirmu"
”Tapi itu pilihanku...”kataku lebih yakin lagi, entah setan apa yang sedang masuk kedalam tubuhku.
”Aku akan mengajukan pindah dinas ke kotamu nanti...aku akan menunggumu!”arah tatapku masih tak berubah
”Ayo dong Sinar sayanggg...kamu wanita cerdas, karir cemerlang, masa depan gemilang..kamu berhak untuk jadi yang pertama dan hanya satu-satunya, jangan berpikir yang aneh-aneh begitu”katamu mengguncang bahuku.
”Maukah kau melihatku bahagia?”tanyaku menyelidik ke matamu
”Katakan apa maumu...”jawabmu segera
”Tinggalkan dia, atau jadikan aku yang kedua”lemah aku menjawab
”Sinar, sebaiknya aku antar kau pulang”katamu
Aku menurut lemah, tak ada gunanya memaksa...karena sebenarnya aku juga tak tega.
Laju sepeda motor sangat cepat, kali ini aku tak lagi menjaga jarak, aku peluk tubuhnya dari belakang erat, sangat erat..sambil melepaskan galau melalui airmata...membasahi punggungnya...
Aku turun dari sepeda motor, kubuka jaket dan kupasangkan untuknya, kukecup pipinya..lembut...hingga air mataku jatuh dipipinya...
Aku masuk ke rumah tanpa berkata apa-apa.
Memanjakan diri dengan berendam air hangat...bersiap tidur, lalu HP ku berbunyi...
SMS darimu: ”Lusa aku akan menjemputmu Sinarku Sayang...”.
Tak ada balasan dariku, aku tertidur...aku tak ingin memimpikanmu, karena lusa aku akan bertemu denganmu.
Minggu, 27 Juni 2010
Sedih dan Senang...*GoodLuck Bro...

Ini adalah perjalanan pertamanya untuk berjuang menyelamatkan dirinya sendiri, mungkin memperjuangkan harga dirinya...dan mungkin juga hanya untuk membuktikan bahwa dia berani jauh dari keluarga yang pasti sangat dicintainya...
Adikku paling bungsu secara resmi kami anggap sebagai perantau, sebagaimana halnya pria minang zaman dahulu..hehehe...yah aku pikir itu baik buatnya, agar dia tau seperti apa rasanya jauh dari aku, dari ibuku dan dari abangnya...
Melihat persiapannya untuk berangkat sepertinya bulat sekali tekadnya untuk tak kembali sebelum "berhasil" entah apalah ukuran berhasil itu menurutnya, yang aku tau..kapan pun itu...dia harus sendiri...
Kenapa aku sebegitu lebainya menganggap perantauannya seperti sebuah perpisahan yang sangat menyedihkan? sampai ibuku tak kuasa menahan tangis, sampai aku juga akhirnya menyerah dan menitikkan air mata?
Yahhh...karena selama 27 tahun hidupnya, dia adalah yang paling lemah diantara kami secara fisik mungkin, ada kebutuhan khusus buatnya secara fisik, karena hanya dia juga yang selama ini selalu mengalah berada di dekat ibuku
Satu-persatu kami meninggalkan rumah, untuk melanjutkan siklus kehidupan, berbekal ijazah yang mungkin menurut orang lain tak seberapa...satu-persatu kami jauh dari ibuku, dan inilah hal yang paling berat... i really miss her...so much...
Yahhh...inilah hidup, ada bagian sedih dan ada bagian bahagia...
Trima Kasih untuk sedih dan bahagia ini ya Allah....
Kamis, 10 Juni 2010
Aku Rindu PadaMu

Uuffhhh....tarik nafas dalam-dalam....susah banget buat fokus. Kreatifitas ilang, banyak mau tapi tak mampu...begitulah kira2. Kata orang sih tak ada yang tak mungkin jika kita berusaha, tapi adakah yang mau meyakinkan ku bahwa apa yang kuinginkan saat ini bisa kuraih? bukan bantuan untuk mewujudkannya secara langsung, hanya untuk meyakinkanku saja...
Satu-persatu rasanya mulai meninggalkanku, bosan melanda, tak tau akan diceritakan sama siapa, empty, lonely....kalo udah gini aku ingin sendiri beneran, sejenak saja...seperti yang dulu sering aku lakukan...berjalan sendiri menikmati orang lalu lalang didepanku, disekitarku...yah itulah cara ku memanjakan diri...itu duluuu...waktu aku masih dianggap sebagai wanita yang belum dewasa.
Tapi sekarang aku dianggap sudah dewasa, baik dari segi U dan status juga yeaahhh mungkin pengalaman, meski aku sendiri tak mengerti apa itu kadar dewasa, apa barometernya...dan tak perlu juga aku tau terminologinya bukan?
Yang pasti sekarang caraku memanjakan diri adalah dengan traveling..yahhh, dulu aku suka jalan-jalan dan sekarang berubah menjadi sangat suka, dan akan lebih suka lagi, makin banyak dilihat makin banyak tau dan ingin diketahui...itulah manusia dan hidupnya, istilahnya "tak pernah puas".
Sebenarnya bukan itu, aku hanya merasa semakin besarnya Kuasa Tuhan ketika kita melihat betapa indahnya dunia dengan variasi yang tak terhitung...warna-warni dunia dari benda hidup ampe benda mati...sampai aku merasa sangat rindu dengan penciptanya..ya...traveling membuat ku Rindu PadaMu Ya Allah...
Merasa kecil dan tak berarti, tapi selalu sombong dihadapan manusia lain serta selalu mengeluh dihadapanMu...padahal sedikit saja kau meniupkan hawa murka ke wajah kami betapa tak sanggupnya kami untuk itu....Maafkan kami Ya Allah, atas semua hal bodoh yang terkadang mengingkari kuasa mu....
Sabtu, 01 Mei 2010
Travelling lah sebelum meteor menghancurkan bumi
Yang mana yahh..waktu terbatas hanya bisa milih 1 kota, sementara semua menggiurkan...
Travelling lah sebelum meteor menghancurkan bumi....hehehehe
Senin, 05 April 2010
Roxette: You dont Understand me

Seumur hidup ...ini kali pertama ketinggalan pesawat...harusnya dalam kondisi tak beruntung begini pelampiasan adalah mencari bahan tertawaan biar hati terhibur...tapi apa yang terjadi???
HP Lowbatt, Blackberry juga lowbatt bahkan habis total, sementara lusa aku juga harus menyambung penerbangan ke kota lain setelah kota tujuan penerbangan yang tak jadi ini...
Hufff...mana banyak tugas pula yang harus dikerjakan..ya ampunnnn ...malas melanda
hmmm...ada sesuatu yang ilang didalam ati..tiba2 ajah dada kayak berlubang, dan tak tau kenapa. Aku tiba2 membutuhkan sosok yang bisa ngademin kalo aku lagi panik dan pusing kayak begini, yang bisa meyakinkan aku dengan kalimat "dont worry hun...everything will gonna be alrite.." dan aku akan merasa ringan setelah mendengarkan itu.
Bukan omelan, bukan disindir-sindir, dan bukan pula kalimat2 yang membuat aku merasa semakin bodoh...
Kalau boleh jujur..tak banyak yang kuinginkan..hanya ingin dibuat nyaman, bukan selalu merasa bersalah...merasa nyusahin dan merasa tolol...
Mhhh...sebenarnya pengen ngobrol...ngobrol apa ajah...
:::Tertawa lepas itu menyenangkan yah...apalagi jika tertawa lepas bersama-sama...serasa semua masalah yang ada dan yang akan datang itu adalah gampang jalan keluarnya:::






